Asal usul Ambacong
Ambagcong Merah – Sang Penguasa
Kegelapan yang Tersenyum
Di suatu alam yang tak pernah disentuh cahaya matahari, tepatnya di celah paling dalam antara mimpi buruk dan kenyataan yang lupa, berdiri sebuah singgasana yang terbuat dari rantai, tulang, dan urat naga yang membatu. Singgasana itu bernama **Kursi Kelam**, dan selama ribuan tahun tak pernah ada yang berani duduk di atasnya… sampai dia datang.
Mereka memanggilnya **Ambagcong Merah**.
Tak ada yang tahu dari mana asalnya. Ada yang bilang dia dulunya manusia biasa dari kampung kecil di pinggir hutan, ada pula yang bersumpah dia adalah bayangan yang lepas dari tubuh Dewa Kegelapan saat sedang tidur. Yang pasti, ketika dia muncul pertama kali, jubah merahnya masih basah oleh darah yang bukan miliknya sendiri.
Ambagcong Merah tidak pernah marah dengan cara yang keras
Dia hanya tersenyum.
Senyum yang lebar, gigi putih berkilau di wajah hitam pekat seperti malam tanpa bintang. Senyum itu lebih menakutkan daripada teriakan perang manapun.
Ketika seseorang berani menatap matanya yang kosong namun bercahaya merah samar di hidung, orang itu biasanya tak akan pernah bisa tidur lagi. Karena setiap kali orang itu memejamkan mata, dia akan melihat Ambagcong masih tersenyum… lebih dekat… lebih dekat… sampai napasnya terasa di leher.
Tongkat yang dipegangnya bukan tongkat biasa.
Ujungnya berbentuk bulan sabit kecil yang terbuat dari darah beku, dan di dalam bola merah di atasnya terperangkap jiwa-jiwa yang masih berbisik memohon ampun—tapi tak pernah didengar.
Suatu malam, seorang pendekar muda bernama Surya datang ke gerbang alam itu dengan niat membunuh Ambagcong MerahDia membawa pedang pusaka keluarga, mantra dari tujuh pertapa gunung, serta keberanian yang masih mentah.
Ambagcong hanya menatapnya dari singgasana, kepala sedikit miring, seperti sedang memperhatikan anak kucing yang sedang mencoba menggigit singa.
“Kau mau apa, Nak?” suaranya lembut, hampir seperti nyanyian pengantar tidur.
“Aku mau mengakhiri teror mu!” teriak Surya, pedangnya sudah terhunus.
Ambagcong tertawa kecil. Bukan tawa yang menggelegar, hanya tawa pelan… tapi seluruh ruangan ikut bergetar.
“Teror?”
Dia mengangkat tangan kanannya, dan tiba-tiba Surya melihat bayangan dirinya sendiri—tapi versi yang jauh lebih tua, penuh luka, berlutut di hadapan singgasana yang sama, memohon ampun
“Itu bukan teror, Nak…”
Ambagcong mencondongkan tubuh ke depan, senyumnya melebar sampai hampir menyentuh telinga.
“Itu cuma… cermin.”
Surya menyerang dengan segenap tenaga.
Pedangnya menyambar, mantra menyala, cahaya suci membakar udara.
Tapi ketika pedang itu hampir menyentuh leher Ambagcong…
semuanya berhenti.
Waktu. Angin. Bahkan detak jantung Surya sendiri.
Ambagcong hanya mengulurkan jari telunjuk, menyentuh pelan dahi Surya.
Dan dalam sekejap, pendekar muda itu melihat semuanya:
bagaimana dia kelak akan membunuh sahabatnya sendiri demi kekuasaan,
bagaimana dia akan mengkhianati guru,
keluarga, dan akhirnya dirinya sendiri,
sampai akhirnya… dia duduk di singgasana yang sama, mengenakan jubah merah yang sama, tersenyum dengan cara yang sama.
Surya jatuh berlutut. Pedangnya jatuh. Air matanya jatuh.
Ambagcong bangkit perlahan dari singgasana. Rantai-rantai di sekitarnya berderak seperti menyambut tuannya yang sedang jalan-jalan sebentar.
Dia berjongkok di depan Surya yang gemetar, lalu berbisik lembut:
“Jangan takut jadi monster…
Takutlah kalau suatu hari kau jadi monster… tapi tetap tersenyum seperti manusia baik-baik.”
Lalu dia menepuk kepala Surya pelan, seperti seorang kakak menepuk adiknya.
Ketika Surya sadar kembali, dia sudah berada di pinggir hutan kampungnya sendiri.
Pedangnya masih utuh. Tubuhnya tak terluka.
Tapi di dalam dadanya… ada sesuatu yang berubah.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya,
Surya tersenyum ke cermin…
dan senyum itu terasa asing.
Terlalu lebar.
Terlalu putih.
Terlalu… mirip.
Di alam yang tak tersentuh cahaya, Ambagcong Merah kembali duduk di singgasananya.
Dia menatap bola merah di ujung tongkatnya, melihat bayangan Surya yang kini mulai retak-retak.
Lalu dia tersenyum lagi.
Karena dia tahu,
kursi di sebelahnya…
masih kosong.
Dan suatu hari nanti…
akan terisi
Bukti bukti penampakan Ambacong





Komentar
Posting Komentar